Jumat, 03 Oktober 2008

Waspadalah....!!! (2 Tesalonika 2:1-12)

Pada tanggal 31 Agustus 2007, Seluruh harian di Indonesia memuat berita, sebuah gereja yang berpusat di Bandung mengimani, bahwa hari kiamat akan terjadi pada hari Senin, tanggal 10 November 2003, Jam 15.00.
(1) Alasan pemilihan tanggal tersebut adalah karena penglihatan dan nubuatan yang pertama-tama diberikan kepada gembala sidang, lalu konon katanya, akhirnya semua anggota jemaat gereja tersebut mendapatkan penglihatan dan nubuatan yang sama.
(2) Alasan mereka menentukan jam. 15.00, konon katanya itu bertepatan dengan saat Yesus menghembuskan nafas terakhir di atas kayu salib.
Benarkah pemahaman seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengajak Anda melihat 1 Petrus 3:10a, “…hari Tuhan akan tiba seperti pencuri….
Pernyataan ini menegaskan bahwa tak seorangpun yang tahu kapan hari itu akan tiba. Hanya Tuhan yang tahu.
Karena itu, pada ay 2:2, Paulus menasihati jemaat Tesalonika, dan kita pada zaman ini, supaya kita tidak bingung dan gelisah apabila ada orang yang memberitakan kedatangan Tuhan. Karena berita itu, bisa dipastikan 100% pasti bohong.
Karena tak ada seorangpun di dunia ini yang tahu kapan Tuhan akan datang ke dunia.
Namun, meski Tuhan tidak menyatakan kapan pastinya Ia akan datang kembali, Tuhan memberikan tanda-tanda menjelang kedatanganNya kembali.
…Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa…” (ay 3b)
Dengan kata lain, Tuhan akan memisahkan antara “domba” dan “kambing” (bnd Matius 25:31-46). Memisahkan umatNya dari orang-orang durhaka. Orang durhaka? Siapa mereka?
· Orang-orang Ateis yang menyatakan diri sebagai Allah (ay 4)
· Orang-orang yang menyesatkan orang lain dengan berbagai-bagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu (ay 9-10)
· Orang-orang yang menolak Injil yang menyelamatkan hidup mereka, dan mempercayai kebohongan (ay 10-11)
· Orang-orang yang berlaku jahat di hadapan Tuhan (ay 12)
Tuhan menyatakan bahwa mereka akan menerima hukuman atas kedurhakaan mereka (ay 12).
Mengetahui hal ini, saya, secara pribadi, melihat tanda-tanda itu sudah terlihat jelas pada saat ini. Apa buktinya?
a. Berkembangnya paham Panteisme, yang menyatakan bahwa manusia adalah Allah. Salahnya satunya terlihat dengan terbitnynya buku “The Secret”, yang menjadi salah satu buku Bestseller saat ini.
b. Banyaknya praktek-praktek kesehatan yang menggunakan tenaga prana, serta fakta semakin banyaknya paranormal saat ini.
c. Banyak orang yang menolak Injil dan lebih memilih membuka telinganya bagi kebohongan.
Bukti: Ada orang-orang yang senang menonton acara gossip dan bergosip ria, daripada mempelajari dan membicarakan firman Tuhan.
d. Meningkatnya angka kejahatan. Bahkan, bukan hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga secara kualitas. Terbukti, jenis kejahatan yang terjadi semakin banyak dengan modus yang semakin canggih dan variatif.

Menyadari hal ini, apa yang harus kita lakukan? Ada 2 hal yang harus kita lakukan
a. Waspada, supaya kita tidak disesatkan (ay 3)
Melihat betapa maraknya kedurhakaan saat ini, seharusnya membuat kita semakin waspada, supaya kita tidak disesatkan oleh zaman.
Supaya kita tidak “tersesat”, maka, mau tidak mau, kita harus memahami, mempelajari dan berpegang teguh pada kebenaran (ay 15).
Karena itu, mempelajari firman Tuhan bukan lagi sebuah pilihan, tapi sebuah keharusan. Tujuannya, supaya kita tidak “buta” dan dengan mudah disesatkan oleh zaman ini.

b. Waspada, supaya hidup kita tidak tercemar oleh dosa (2 Petrus 3:14)
Menjaga kekudusan hidup, di tengah kedurhakaan bukanlah perkara yang mudah. Karena kedurhakaan terpampang dengan jelas di depan mata kita, dan menawarkan kenikmatan yang, seringkali, sulit kita tolak.
Tidak heran, kalau akhirnya, ada banyak orang-orang Kristen yang jatuh ke dalam dosa, dan hidupnya tidak berbeda dari orang-orang dunia.
Menyadari hal ini, kita dituntut untuk waspada dan senantiasa berusaha menjaga kekudusan hidup kita.
Supaya kelak, ketika Tuhan datang kembali, Ia tidak melihat kita sebagai orang-orang durhaka, tetapi sebagai umat yang dikasihiNya.
Namun, kalau ternyata kita telah jatuh ke dalam dosa. Biarlah firman Tuhan ini menyadarkan kita, membuat kita berbalik dari dosa, dan mendorong kita hidup dalam kekudusan.
Karena saat ini, Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita. Kalau kita tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik, jangan salahkan Tuhan, kalau nanti Ia harus menghukum kita.

Sabtu, 13 September 2008

The Secret vs Iman Kristen


Apa rahasia untuk meraih semua yang kita inginkan? Pertanyaan inilah yang mendorong Rhonda Byrne, sang penulis buku “The Secret”, memulai “perjalanan”nya. Sampai pada akhirnya, ia menemukan sebuah prinsip dasar, yang ia sebut sebagai “Hukum Tarik Menarik”.
Mengutip perkataan Bob Proctor, Byrne mengatakan, “Segala sesuatu yang datang ke dalam hidup Anda ditarik oleh Anda ke dalam hidup Anda. Dan segala sesuatu itu tertarik ke Anda oleh citra-citra yang Anda pelihara dalam benak; oleh apa yang Anda pikirkan. Apapun yang berlangsung dalam benak, Anda menariknya ke diri Anda.” (The Secret, hal. 4)
Karena, “pikiran bersifat magnetis, dan pikiran memiliki frekuensi. Ketika Anda memikirkan pikiran-pikiran, pikiran-pikiran itu dikirim ke Semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik semua hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang dikirim ke luar akan kembali ke sumbernya – Anda.” (The Secret, hal 29).
Jadi, kalau pikiran kita penuh dengan hal-hal yang baik, maka hal-hal yang baik akan datang ke dalam hidup kita. Sebaliknya, kalau kita memikirkan hal-hal yang tidak baik, maka kita akan mengalami hal-hal yang tidak baik dalam hidup kita.
Karena itu, kalau kita ingin mengalami hal-hal yang positif, Byrne mendorong kita untuk mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang positif.

Sekilas, apa yang disampaikan oleh Byrne sesuai dengan apa yang telah dinyatakan oleh Alkitab.
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8)
Apalagi saat Byrne menyatakan bahwa kita akan menerima semua yang kita inginkan, kalau kita mau meminta apa yang kita inginkan dan percaya bahwa kita pasti akan menerimanya (The Secret, hal 53-62).
Bukankah hal ini selaras dengan perkataan Tuhan Yesus, “…apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22)
Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24).
Namun, ada perbedaan mendasar antara ajaran Byrne dan ajaran Tuhan Yesus.
Byrne mengatakan, “Anda adalah Tuan dari Semesta dan Jin (Semesta) ada di sana untuk melayani Anda. Jin tidak pernah mempertanyakan perintah Anda. Anda memikirkannya, dan Jin segera mulai mendongkrak Semesta, melalui orang-orang, situasi, dan peristiwa, untuk memenuhi keinginan Anda.” (The Secret, hal 52-53).
Dengan kata lain, bagi Byrne, kita (manusia) adalah allah, dan Semesta ada untuk melayani kita.
Tidak heran, kalau Byrne sangat menekankan kepastian. Byrne menyatakan bahwa semua yang kita pikirkan pasti akan terjadi, atau akan kita miliki.
Pandangan ini bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan. Alasannya antara lain:
1. Manusia bukan Tuhan. Manusia adalah ciptaan Tuhan. Karena itu, kita bukan Tuan dari Semesta, tapi bagian dari Semesta. Dan, sebagai bagian dari alam semesta, kita bertanggung jawab untuk menyenangkan hati Tuhan, sang Pencipta (Roma 11:36), bukan keinginan diri sendiri.
2. Manusia bukan penguasa alam semesta, meski Kejadian 1:26 menyatakan bahwa kita diciptakan untuk menguasai alam semesta. Tuhanlah penguasa alam semesta, karena Ia lah yang menciptakan alam semesta.
3. Karena kita bukan Tuhan, maka saat kita berbicara tentang masa depan, tidak ada yang pasti (Yakobus 4:13-17), kecuali kepastian bahwa Tuhan akan memberikan masa depan yang baik untuk kita (Yeremia 29:11).
4. Manusia adalah mahluk yang fana, yang diciptakan oleh Tuhan (Mazmur 90:10), bukan energi yang abadi seperti yang diyakini oleh Byrne.

Senin, 08 September 2008

Harapan

Pendahuluan
Apakah Anda memiliki harapan/ impian/cita-cita?
(1) Ada orang-orang yang berharap memiliki banyak uang. Supaya mereka dapat membeli atau melakukan semua yang mereka inginkan. Karena itu, mereka bekerja mati-matian untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya.
(2) Ada orang-orang yang berharap memperoleh pujian atau penghargaan dari orang lain. Karena itu, mereka berusaha untuk menorehkan banyak prestasi, atau berusaha untuk hidup saleh, supaya orang-orang ‘memandang’ mereka.
(3) Ada orang-orang yang berharap jadi orang terhormat, ke mana-mana dihormati oleh orang lain. Karena itu, mereka berusaha memperoleh kedudukan, seperti jadi presiden atau tokoh masyarakat lainnya, supaya orang-orang menghormati mereka.
(4) Dsb
Apapun harapan yang kita miliki, memiliki sebuah harapan/impian/cita-cita sangatlah penting.
Martin Luther, seorang Bapa Gereja, pernah berkata, “segala hal yang dilakukan di dunia dilakukan oleh harapan.”
Kenapa kita harus punya harapan/impian/cita-cita? Karena harapan (1) memberi arah/tujuan hidup, dan (2) memotivasi kita untuk hidup lebih baik.

Refleksi
Apa harapan/impian/cita-cita kita?

Bagaimana cara kita mewujudkan harapan-harapan kita? Ada beberapa hal yang harus kita lakukan supaya harapan-harapan kita terwujud.
1. Menyusun rencana
Harapan harus kita wujudkan dalam bentuk ‘rencana’. Apa yang akan kita lakukan untuk memperolehnya? Kita harus memiliki rencana yang ‘kongkrit’, supaya ‘jalan’ untuk mewujudkan harapan kita terlihat lebih jelas.

2. Berharap Hanya Kepada Tuhan
Yakobus mengingatkan kita supaya kita senantiasa melibatkan Tuhan dalam seluruh rencana kita (Yakobus 4:13-17).
Kenapa? Karena hanya Tuhan yang tahu dan mampu mengubah masa depan kita. Kita bisa berusaha untuk meraih yang terbaik, tapi hanya Tuhan yang bisa menjamin 100% kita akan meraih yang terbaik.
Pertanyaannya: ‘Sudahkah kita melibatkan Tuhan dalam seluruh rencana hidup kita?'
Pada umumnya, orang mengandalkan diri sendiri untuk mewujudkan semua harapannya.
Permasalahan: Apakah dengan mengandalkan diri sendiri (kepandaian, pengalaman, materi, prestasi, relasi, dsb), kita ‘pasti’ mampu mewujudkan semua harapan kita?
Nabi Yeremia memberi sebuha nasihat, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8)

3. Bekerja keras untuk Memperolehnya (Jangan menggunakan jalan pintas)
Untuk meraih apa yang kita inginkan, biasanya ada 2 jalan yang ditawarkan, yakni (1) jalan yang mudah dan (2) jalan yang sulit.
Kalau kita memilih jalan yang mudah, harapan kita akan lebih cepat terwujud tanpa harus bekerja keras. Namun, (biasanya) hasilnya tidak akan bertahan lama, dan akan cepat hilang.
Kalau kita memilih jalan yang sulit, harapan kita akan lebih sulit terwujud karena kita dituntut untuk bekerja keras. Namun, hasil yang kita peroleh tidak akan cepat hilang.
Jalan mana yang akan kita pilih? Rasul Paulus pernah memberi nasihat, “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.”

4. Belajar dari Kegagalan, Meraih Keberhasilan
Ketika berusaha, semua orang akan menghadapi kegagalan. Namun, tidak semua orang mampu bangkit kembali dari kegagalan yang ia hadapi.
Kata orang bijak, “Kegagalan adalah sukses yang tertunda.” Karena itu:
a. Jangan berkecil hati saat kita mengalami kegagalan. Karena bukan hanya kita yang menghadapi kegagalan, tapi semua orang juga bisa mengalami kegagalan.

b. Bangkitlah dari keputusasaan. Karena tak ada seorangpun yang diciptakan untuk menjadi orang gagal. Semua orang diciptakan untuk meraih kesuksesan.

c. Belajarlah dari kegagalan supaya kita meraih keberhasilan yang kita impikan. Ingatlah pada pepatah yang berkata, “Keledai saja tidak akan jatuh dua kali ke dalam lubang sama.

Rabu, 03 September 2008

Ibunda Teresa : Dipanggil Untuk Setia

Suatu kali seseorang bertanya kepada Ibu Teresa, "Ibu telah melayanikaum miskin di Kalkuta , India . Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan ? Apakah Ibu tidak merasa gagal ?"
Ibu Teresa menjawab, "Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia ...."

Ibunda Teresa : Pengorbanan


Beberapa tahun lalu, Kalkuta mengalami bencana kekurangan gula. Pada suatu hari, seorang anak kecil berumur empat tahun datang menemui saya bersama orang tuanya. Mereka membawakan saya sekaleng kecil gula. Ketika mereka menyerahkannya kepada saya, anak kecil itu berkata, "Saya sudah tiga hari tidak makan gula. Ambilah ini untuk anak-anakmu." Anak kecil itu mengamalkan cinta dengan sepenuh hati.
"Melayani bukan berbicara tentang berapa banyak yang saya dapatkan, tapi berbicara tentang berapa banyak yang bisa saya berikan kepada mereka yang membutuhkan."

Sabtu, 05 Juli 2008

Pribadi yang Sukses (Ayub 1)

Pendahuluan
Apa rahasia untuk meraih kesuksesan? Banyak orang yang berusaha mencari jawaban atas pertanyaan ini.
Beberapa tokoh ‘sukses’ pun mencoba men-share-kan pengalaman mereka kepada para pencari sukses.
Bill Gates mengatakan ada 10 rahasia untuk meraih kesuksesan, yakni :
a. Menghargai komitmen dan kerjasama dengan siapapun
b. Membina kepercayaan dengan siapapun
c. Memikirkan asas manfaat, dan bukan hanya mengejar keuntungan materi sebanyak-banyaknya
d. Mendengarkan kata hati
e. Bekerja dengan hati
f. Kekayaan bukan dinilai dari uang yang dimiliki
g. Berorientasi pada manfaat sebesar-besarnya
h. Fokus pada apa yang diperoleh bukan yang hilang
i. Belajar dari Kegagalan
j. Akui Kesalahan Dengan rendah Hati

Daniel Trump memberikan beberapa tips yang berbeda, yakni :
· Berpikirlah besar
· Berpikirlah positif
· Ikuti hatimu
· Belajar sesuatu yang baru setiap hati
· Dengarkan insting/nalurimu
· Sabar
· Bentuk tim yang hebat untuk mendukungmu
· Tarulah keindahan dalam setiap hal yang kamu lakukan
· Belajarlah bernegosiasi, karena semua yang kamu inginkan membutuhkan hal itu
· Kejarlah hasil maksimal yang bisa kamu peroleh
· Investasi di bidang real estate
· Berani mengambil resiko
· Menjadi figure public
· Be your own brand
· Menikmati bekerja kapanpun
· Berkatalah tidak
· Keluarlah dari Comfort Zone mu
· Jadilah stubborn saat dibutuhkan
· Selalu miliki rencana B
· Tidak pernah puas dengan yang terbaik kedua

Masih ada banyak lagi rahasia-rahasia kesuksesan yang di-share-kan oleh orang-orang ‘sukses’.
Pertanyaannya, apakah semua rahasia itu ‘manjur’ dan menjamin 100% akan membawa kita kepada kesuksesan?
Mungkin iya, mungkin juga tidak. Karena kunci paling mendasar dari sebuah kesuksesan tidak terletak pada semua tips itu, tapi terletak di tangan Tuhan.
Rahasia inilah yang dipahami dengan sangat baik oleh Ayub.

Pemahaman Alkitab
Tak seorangpun menyangkal kalau Ayub dikenal sebagai orang yang sangat kaya. Buktinya adalah jumlah ternak yang ia miliki.
Ayub tercatat memiliki 7000 ekor kambing domba, 3000 ekor unta, 500 pasang lembu (1000 ekor), dan 500 keledai betina. Kalau semua ternak itu dijual dengan harga saat ini, maka harta kekayaan Ayub akan mencapai + Rp. 49.000.000.000,- (49 milyar rupiah).
Mungkin kalau dibandingkan Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia saat ini yang kekayaannya mencapai 460 triliun rupiah (Sumber: Forbes), kekayaan Ayub tidak ada apa-apanya.
Tapi, pada saat itu, kekayaan Ayub melebihi semua orang yang ada di sebelah timur (ay 3). Jadi, Ayub bisa disebut sebagai orang sukses.
Apa rahasia kesuksesan Ayub? Salah satu rahasianya adalah menjaga hubungan yang dekat dengan Tuhan. Hal ini terlihat dari ibadahnya kepada Tuhan.
Mengapa Ayub menjaga hubungan yang dekat dengan Tuhan? Tidak lain, karena ia sadar kalau semua yang ia miliki berasal dari Tuhan (ay 21). Ia sadar tanpa Tuhan, semua kualifikasi yang ia miliki untuk menjadi orang sukses tidak ada artinya.
Karena itu, apapun yang terjadi, satu hal yang tidak pernah berubah dari diri Ayub adalah kesetiaan dan kepercayaannya kepada Tuhan.
Meski ia harus jatuh miskin, ia tidak berkecil hati. Karena ia sadar semua yang ia miliki adalah milik Tuhan. Karena itu, kalau Tuhan mau mengambilnya, ia tidak akan ragu memberikannya.
Melihat kesetiaan dan kepercayaan Ayub, tidak heran, kalau Allah memberkati Ayub dengan kekayaan yang berlimpah-limpah.

Refleksi
Hal yang sama juga bisa kita alami apabila kita meletakkan Tuhan sebagai dasar dari kehidupan kita.
Meletakkan Tuhan sebagai dasar dari kehidupan kita berarti kita harus menerapkan nilai-nilai firman Tuhan dalam semua hal yang kita lakukan.
Saat bercakap-cakap dengan Iblis, Tuhan menyebus Ayub sebagai pribadi yang “saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (ay 8).
Artinya, Ayub tidak pernah menggunakan cara-cara yang tidak baik untuk mengelola usahanya. Ia tidak pernah merugikan orang lain demi kepentingan pribadi. Ia selalu memperlakukan pegawainya dengan baik.
Atau dengan kata lain, ia menerapkan kebenaran firman Tuhan dalam pengelolaan usahanya.
Itulah ciri orang yang meletakkan Tuhan sebagai dasar dari kehidupannya.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menerapkan nilai-nilai firman Tuhan dalam pekerjaan kita?
Kadangkala ada sebuah kekhawatiran. Khawatir kalau kita menerapkan nilai-nilai firman Tuhan, usaha kita akan ‘macet’ dan keuntungan kita akan ‘seret’.
Kekhawatiran seperti ini sangat wajar. Karena orang bekerja tentu dengan harapan bisa memperoleh keuntungan yang banyak. Namun, bukan berarti untuk memperolehnya kita boleh menghalalkan segala cara.Sebaliknya, di sinilah iman kita diuji. Apakah kita percaya kalau Tuhan yang akan mencukupkan semuanya atau tidak?

Minggu, 15 Juni 2008

Tetap Percaya Walau Tertindas (Mazmur 116)


Woody Allen, seorang sutradara, actor dan penulis, pernah mengatakan, “Hidup penuh dengan kesedihan, kesendirian dan penderitaan.
Ungkapan ini, paling tidak menyatakan kepada kita bahwa kesulitan dan kehidupan memiliki kaitan yang sangat erat. Di mana ada kehidupan, di situ pasti ada kesulitan. Dan, fakta ini dialami oleh semua orang.
Hal ini ditegaskan oleh William Feather, seorang penulis buku, yang pernah mengatakan, “Tidak ada satupun yang terjadi dalam hidupmu yang tidak terjadi dalam hidup orang lain.
Jadi, semua orang pasti akan mengalami pergumulan dalam hidupnya. Perbedaannya hanya ada 2, yakni: (1) “Apa masalahnya?” dan (2) “Apa yang mereka lakukan saat berada dalam kesulitan/ pergumulan?”
Apa yang akan kita lakukan saat menghadapi kesulitan? Saya yakin ada banyak jawaban pilihan. Namun, di antara sekian banyak pilihan, pemazmur memilih untuk tetap percaya kepada Tuhan.
Kenapa ? Ada 2 Alasan mengapa pemazmur memilih untuk tetap percaya kepada Tuhan.

Pertama, karena ia percaya Tuhan peduli kepadaNya.
Kehidupan pemazmur, ternyata, tidak jauh berbeda dari kehidupan kita. Pemazmur juga mengalami kesulitan, yang menyebabkan ia putus asa dan kehilangan harapan hidup (ay 3).
Namun, yang menarik, dalam situasi seperti itu, pemazmur menyatakan bahwa ia tetap mengasihi Tuhan.
Kenapa ? Karena pemazmur percaya kalau Tuhan senantiasa mendengar seruannya minta tolong (ay 2).
Bahkan lebih dari itu, dalam bahasa aslinya, kata “mendengar” juga mengandung unsur “memperhatikan”. Artinya, Tuhan bukan hanya “mendengar” sambil lalu, setelah itu melupakan apa yang telah Ia dengar. Tapi Ia mendengar dengan seksama setiap seruan sang pemazmur. Seakan tak ingin kehilangan satu katapun yang terucap dari mulut sang pemazmur.
Kenapa Tuhan mau melakukan hal itu? Tidak lain, karena Tuhan peduli kepada seruan orang yang lemah dan sederhana (ay 6), orang-orang yang membutuhkan pertolonganNya.
Kalau Tuhan peduli kepada pemazmur, Tuhan pun peduli kepada kita. Kalau Tuhan mau mendengar setiap seruan dan doa sang pemazmur, Tuhan pun mau mendengar seruan dan doa kita. Karena Ia peduli kepada kita.

Kedua, karena ia percaya Tuhan akan menolongnya.
Satu perbedaan yang dilihat oleh pemazmur saat ia membandingkan Tuhan dengan orang-orang yang ia kenal adalah “Tuhan tidak pernah berbohong”.
Ya…Tuhan tidak pernah berbohong. Pemazmur mengalami sendiri bagaimana Tuhan menolongnya. Saat semua orang tidak peduli dan meninggalkannya. Tuhan tetap ada di sisinya dan menolong dia (ay 7-8, 11).
Karena itu, sang pemazmur tahu kepercayaannya kepada Tuhan tidak sia-sia.

Mengapa orang sulit untuk percaya pada Tuhan ?
Pertama, karena mereka mengukur kasih Tuhan berdasarkan pengalaman dan keadaan mereka.
Kalau mereka mengalami sesuatu yang (mereka anggap) buruk, berarti Tuhan tidak mengasihi mereka. Tapi, kalau mereka mengalami sesuatu yang (mereka anggap) baik, berarti Tuhan mengasihi mereka.
Satu hal yang seringkali kita lupa, yakni kasih Tuhan tidak bergantung pada keadaan kita. Ia senantiasa mengasihi kita baik saat kita berada dalam suka atau duka.
Karena Ia mengasihi kita, Ia mengijinkan kita mengalami dukacita kalau itu membawa dampak yang positif buat kehidupan kita.
Sebaliknya, Ia akan menghindarkan kita dari sukacita, kalau itu membawa dampak negatif buat kehidupan kita.
Karena itu, percayalah kepada Tuhan. Jangan ukur kasihNya berdasarkan keadaan atau pengalaman kita. Karena kasih Tuhan jauh lebih besar dari semua itu.

Kedua, karena mereka memiliki pegangan hidup yang lain.
Apa itu ? Bisa diri sendiri, bisa materi, mungkin juga kepandaian, atau relasi, dsb.
Permasalahannya, semua pegangan itu tidak menjamin kita bisa melalui kesulitan-kesulitan hidup kita. Karena tidak jarang, kesulitan itu melampaui kemampuan kita untuk mengatasinya.
Namun, ada satu pegangan yang bisa menolong kita, yakni Tuhan. Ia mampu menolong kita melalui setiap kesulitan-kesulitan hidup kita.

Pertanyaannya, maukah kita berpegang padaNya?

Sabtu, 31 Mei 2008

Hidup Kita Terlukis Dalam Telapak Tangan Tuhan (Yesaya 49:8-16; Matius 6:24-34)

“Hidup dan Kesulitan.” Keduanya bagaikan sekeping mata uang dengan 2 sisi yang tak terpisahkan. Di mana ada kehidupan pasti ada kesulitan. Di mana ada kehidupan pasti ada pergumulan. Di mana ada pergumulan pasti ada penderitaan. Dan kenyataan ini dialami oleh semua orang, tua muda, miskin kaya.
Ketika berada dalam kesulitan, pertanyaan yang sering muncul adalah: “Apakah Tuhan sungguh-sungguh mengasihi aku? Kalau iya, kenapa Ia membiarkan aku menderita?”
Secara tidak langsung, pertanyaan ini menyatakan sebuah KERAGUAN pada kasih dan kesetiaan Tuhan. Karena kita beranggapan kalau Tuhan mengasihi saya, seharusnya saya tidak mengalami pergumulan dan kesulitan. Jadi, karena saya mengalami penderitaan, kasih Tuhan perlu kita pertanyakan.
Keraguan serupa pernah dinyatakan oleh Israel kepada Tuhan : “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku” (Yesaya 49:14).
Mengapa keraguan itu muncul? Hal ini tidak terlepas dari keadaan mereka saat itu, menjadi budak jajahan bangsa Babel. Kenyataan itu membuat mereka bertanya-tanya, kenapa Tuhan tidak menolong mereka.
Mereka beranggapan kalau Tuhan peduli kepada mereka, seharusnya Tuhan tidak membiarkan mereka menghadapi pergumulan, dan menjadi budak bangsa Babel, atau seharusnya Tuhan menolong mereka dan membebaskan mereka dari perbudakan bangsa Babel seperti yang pernah Tuhan lakukan pada nenek moyang mereka.
Pemikiran seperti ini sangatlah wajar, dan kebanyakan orang memikirkan hal yang sama saat menghadapi pergumulan. “Kalau Tuhan sayang pada saya, tentu Ia tidak akan membiarkan saya menghadapi kesulitan.
Pertanyaannya: “Apakah Tuhan tidak menyayangi Israel? Apakah Tuhan tidak menyayangi kita, umatNya?
Menjawab keraguan Israel, dalam Yesaya 49:15-16, Tuhan memberikan 2 analogi:
Pertama,Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (ay 15).
Mungkinkah seorang ibu yang penuh kasih akan melupakan anaknya? Demikian pula dengan Tuhan, Tuhan tidak akan pernah melupakan atau mengabaikan anak-anakNya. KepedulianNya adalah bukti cinta kasihNya kepada kita.
Kedua,Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku” (ay 16).
'Melukis pada telapak tangan' menunjukkan kalau Tuhan tidak pernah berniat melupakan kita.
Sebaliknya, melukis pada tangan menunjukkan kalau Allah senantiasa menggenggam hidup kita dalam tanganNya. Ia tidak akan pernah melepaskan kita.
Dari kedua analogi ini, kita bisa melihat kalau Tuhan sungguh-sungguh mengasihi umatNya. Hal ini ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 6:26-30, saat Ia membandingkan hidup kita dengan burung di udara dan bunga di padang. Tuhan Yesus berkata kalau burung-burung di udara dan bunga di padang saja Ia kasihi, apalagi manusia yang jauh lebih berharga dari keduanya.

Permasalahannya, “Kalau Tuhan mengasihi kita, mengapa Ia biarkan kita menghadapi pergumulan?
Dari Yesaya 49 dan Matius 6, paling tidak kita akan menemukan 3 alasan mengapa Tuhan mengijinkan umatNya mengalami penderitaan.

Pertama, supaya kita menyadari kesalahan kita dan mau berbalik kepada Tuhan.
Bukan perkara yang mudah melihat orang yang dicintai menderita. Demikian pula dengan Tuhan. HatiNya sakit saat melihat umatNya menderita.
Namun, Ia mengijinkan hal itu terjadi supaya umatNya sadar dan mau berbalik kepadaNya. Ketika saatnya tiba, Tuhan berjanji akan memulihkan umatNya (ay 22-26).
Hal serupa juga diijinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita mengalami penderitaan, jangan cepat menyalahkan Tuhan. Introspeksi diri…!!! Jangan-jangan pergumulan itu diijinkan Tuhan kita alami karena kesalahan kita sendiri.
Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan, bukan untuk menghukum kita. Ia mengijinkan kita mengalami pergumulan supaya kita menyadari kesalahan kita dan mau berbalik kepada Tuhan.
Renungkan: Apakah kita menyadari kesalahan kita? Apakah kita mau mengakuinya di hadapan Tuhan dan mohon pengampunan? Serta berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama?

Kedua, supaya kita tidak terikat pada materi dan hal-hal duniawi.
Ketika saya merenungkan Matius 6:25-34, saya tertarik pada cara Injil Matius menyusun pengajaran Tuhan Yesus. Kalau kita perhatikan perikop yang telah kita baca diawali dengan pembahasan tentang hal mengumpulkan harta (ay 19-24).
Tuhan mengajarkan supaya kita tidak mengejar harta dunia, karena harta dunia bisa binasa. Pada ay 25b, Tuhan mengingatkan bahwa hidup kita lebih penting dari apapun. Pada ay 33, Tuhan menasihatkan kita untuk lebih dahulu mencari Kerajaan Allah, maka semua akan ditambahkan kepada kita.
Dari ayat-ayat ini kita bisa menarik sebuah kesimpulan: Tuhan tidak ingin kita terikat pada hal-hal dunia, Tuhan ingin kita mengarahkan pandangan kita kepadaNya.
Karena itu, Tuhan mengijinkan kita mengalami pergumulan. Supaya kita tidak terikat pada dunia, dan mengarahkan hati kepada Tuhan.
Namun, bukan berarti uang tidak penting. Saya pun mengakui kalau uang itu penting. Tapi bukan yang terpenting. Karena pada waktunya, uang akan kehilangan nilainya. Tapi, hidup kekal tidak akan pernah hilang dari pandangan kita.
Renungkan: Apakah selama ini kita terikat pada dunia? Ingatlah, harta dunia fana, tidak kekal. Carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semua akan ditambahkan kepadamu.

Ketiga, supaya kita senantiasa bergantung kepada Tuhan.
Yang namanya manusia, kita sering khawatir saat menghadapi pergumulan. Dan hal itu sangat wajar, karena ada banyak hal yang tidak mampu kita lakukan.
Kalau begitu, kenapa Tuhan melarang kita untuk kuatir? Supaya kita menyadari ketidakmampuan kita. Menyadari bahwa tanpa Tuhan, kita tidak mungkin dapat melakukan apapun. Sehingga kita akan bergantung penuh pada Tuhan.
Renungkan: Apakah kita menggantungkan seluruh harapan dan hidup kita pada Tuhan? Ataukah, selama ini, kita masih mengandalkan kemampuan kita sendiri? Ingatlah...!!! Kita tidak mungkin hidup tanpa Dia. Karena itu, bergantunglah kepadaNya.

Sabtu, 12 April 2008

Sudahkah Anda Menjadi Seorang Pelayan ? (Yesaya 6:8; Roma 12:1)

‘Melayani’ dan ‘menjadi seorang pelayan’ adalah 2 hal yang berbeda.
‘Melayani’ artinya kita melakukan sesuatu untuk seseorang dalam waktu dan tempat yang spesifik (tertentu). Tapi ‘menjadi seorang pelayan’ berarti kita menjadikan pelayanan sebagai hidup kita. Artinya, kapanpun dan dimanapun yang kita pikirkan dan lakukan hanya melayani orang lain.
Dalam relasi kita dengan Allah, yang Allah minta dari kita bukan hanya sekedar melayani Dia, tetapi kita menjadi pelayan-pelayan-Nya.
Roma 12:1 berkata, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Ayat ini dengan jelas menegaskan kepada kita bahwa Allah tidak hanya meminta anak-anakNya melayani Dia. Tetapi Allah meminta anak-anakNya mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Atau dengan kata lain, Allah meminta kita HIDUP BAGI DIA (menjadi pelayan-pelayan-Nya).
Kebanyakan orang bisa melayani, tapi tidak semua orang yang melayani bisa dan mau menjadi seorang pelayan.
Karena menjadi seorang pelayanan dituntut 4 hal, yakni: Komitmen, Totalitas, Ketaatan dan Kesetiaan.
KOMITMEN adalah sebuah janji yang kita buat di hadapan Tuhan, yang bersifat mengikat dan menuntut sebuah tanggungjawab.
Saya ingin mengajak Anda membaca Yesaya 6:8. “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’ Maka sahutku: ‘Ini aku, utuslah aku!’
Ketika Allah memanggil kita untuk menjadi hamba-hambaNya, hal pertama yang Ia tuntut adalah sebuah KOMITMEN. Di mana di dalamnya terkandung janji untuk memberikan seluruh hidup kita kepada Tuhan (Roma 12:1).
KOMITMEN seperti ini menuntut sebuah TOTALITAS. Tuhan tidak mau kita setengah-setengah dalam melayani Dia. Tuhan mau kita melakukan kehendakNya, dan menjawab panggilanNya dengan segenap hati dan kemampuan kita.
Dan, TOTALITAS kita akan tercermin dalam KETAATAN kita kepada Tuhan. Orang yang TOTAL dalam melayani Tuhan, akan melakukan semua kehendak Tuhan meski sulit dan menuntut pengorbanan.
Selain dalam KETAATAN, TOTALITAS kita juga akan tercermin dalam KESETIAAN. Apakah kita akan TAAT dan TOTAL sampai akhir hidu kita? Ataukah kita akan menanggalkan KOMITMEN kita di tengah jalan saat kita menghadapi kesulitan dan hambatan?
Mereka yang setia sampai akhir, akan memperoleh MAHKOTA KEBENARAN (2 Timotius 4:7-8).

Refleksi
Saya ingin mengajak Anda merenungkan beberapa pertanyaan:
a. Apakah kita sudah memegang teguh komitmen kita di hadapan Tuhan untuk melayani Dia dengan sungguh-sungguh?

b. Apakah kita sudah berusaha memberikan yang terbaik kepada Tuhan?

c. Apakah kita sudah melakukan kehendakNya dengan taat dan setia?

Google
WWW Blog ini