Apa yang Saudara pikirkan saat mendengar tema tersebut? Kemungkinan, ada beberapa orang yang mengernyitkan dahi mereka saat mendengar tema tersebut.
Reaksi tersebut sangat wajar. Sebab, bagi beberapa orang, kata tersebut memiliki konotasi yang negatif, atau yang tidak menyenangkan. Karena berbagai pemberitaan, atau cerita, tentang hubungan orang tua dan anak adopsi yang tidak terjalin dengan baik. Misal: berita tentang orang tua yang menyakiti anak-anak yang diadopsinya; atau berita tentang anak-anak yang tidak menghargai jerih lelah kedua orang tua yang telah mengadopsi dan membesarkan mereka.
Namun, apakah Saudara tahu bahwa kata “adopsi” digunakan di dalam Alkitab untuk menggambarkan hubungan yang dibangun oleh Tuhan dengan orang-orang percaya.
Dalam Galatia 4:3-5, firman Tuhan berkata: “Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”
Dalam Alkitab versi International Standard Version (ISV), frasa “supaya kita diterima menjadi anak” diterjemahkan “so that we might receive adoption as his children” (supaya kita dapat diadopsi sebagai anak-anak-Nya).
Ayat ini mengingatkan bahwa, pada awalnya, kita adalah seorang hamba. Bahkan, kita menghambakan diri kepada roh-roh dunia (Galatia 4:8). Namun, karena kasih-Nya, Tuhan mau mengangkat (mengadopsi) kita, sehingga kita menjadi anak-anak Allah. Jadi (kita perlu menggarisbawahi hal ini, red.) bukan karena, di mata Tuhan, kita dinilai layak untuk menjadi anak-anak-Nya. Tetapi, karena Tuhan mengasihi kita, maka Ia menebus kita, dan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya (Yohanes 3:16; Efesus 2:8-9).
Lebih jauh, kalau kita perhatikan perikop ini dengan seksama, ada beberapa hal yang menarik, yang dapat kita pelajari.
Pertama, dalam Galatia 4:7 tertulis: “Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak…” Ayat ini menegaskan jati diri kita yang lama, yakni sebagai hamba (yun, doulos : slave atau budak). Pada saat itu, kedudukan seorang hamba, atau budak, sama dengan binatang, atau harta benda, yang tidak ada nilainya, dan ada hanya untuk kepentingan majikannya.
Penggunaan kata ini mengingatkan kita, bahwa ketika kita jatuh ke dalam dosa, kita kehilangan nilai hidup kita. Kita tidak lebih dari seonggok sampah. Namun, meski demikian, Tuhan tetap mengasihi kita. Bahkan, Tuhan rela memberikan hidup-Nya untuk menyelamatkan kita. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa…?
Kedua, dalam kebudayaan Romawi, ketika seorang anak diadopsi oleh sebuah keluarga, maka keluarganya yang lama tidak memiliki hak apapun (lagi) atas anak tersebut.
Demikian pula dengan kita. Ketika kita diadopsi oleh Tuhan, dan menjadi anak-anak-Nya, maka (sebenarnya) iblis tidak lagi memiliki kuasa atas diri kita. Namun, ironisnya, kita tetap memilih untuk menghambakan diri kepada Iblis, dan hidup di dalam dosa (Galatia 4:9). Bahkan, kita menikmati kehidupan kita yang lama, dan menyia-nyiakan segala anugerah Tuhan untuk kita.
Karena itu, melalui firman Tuhan ini, marilah kita, sebagai orang-orang yang telah menerima anugerah dari Tuhan, belajar untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagai wujud ungkapan syukur kita kepada Tuhan, dan agar hidup kita mempermuliakan nama Tuhan.
Kamis, 23 Agustus 2012
Kamis, 05 Juli 2012
Mengagumi Allah
Baca: Mazmur 117
Kata “kagum” sering digunakan sebagai ekspresi saat kita menikmati sesuatu, dengan panca indera kita, yang (menurut kita) luar biasa. Misal: kita kagum saat melihat sebuah lukisan, atau mendengar alunan musi, atau mendengar seseorang yang luar biasa.
Pertanyaannya, “Apakah kita mengagumi Allah ?” Seharusnya, di dalam hati kita, muncul perasaan kagum kepada Allah, melebihi perasaan kagum kepada hal-hal yang lain. Sebab kita telah mengalami, mendengar, dan melihat betapa luar biasanya Allah. Namun ada banyak orang yang telah kehilangan kekaguman mereka kepada Allah. Alasannya antara lain …
Pertama, karena mereka menganggap ke-LUAR BIASA-an Allah sebagai sesuatu yang BIASA, yang tidak istimewa. Misal: saat mereka memandang sebuah pemandangan yang sangat indah, hati mereka tidak tergugah karena sudah berulangkali melihat pemandangan yang serupa; atau saat melihat matahari terbit, hati mereka tidak tergugah, karena mereka sudah ter-BIASA melihat hal itu setiap hari.
Kedua, karena mereka sedang menghadapi pergumulan yang sangat berat, sehingga pandangan mereka teralih dari Allah. Akibatnya, mereka terpuruk dalam keputusasaan, dan melupakan bahwa Allah yang LUAR BIASA (selalu) bersedia untuk menolong mereka.
Ketiga, karena mereka menjadikan jawaban doa sebagai ukuran ke-LUAR BIASA-an Allah. Mereka akan mengagumi Allah, apabila Allah menjawab doa mereka. Sebaliknya, ketika jawaban Allah tidak memenuhi harapan mereka, Allah menjadi BIASA di mata mereka. Padahal, apapun jawaban Allah, di baliknya tersimpan sebuah rencana ilahi yang LUAR BIASA, yang melebihi bayangan kita.
Keempat, karena mereka tidak meluangkan waktu untuk melihat karya Allah. Mata mereka telah dibutakan oleh berbagai kesibukan, sehingga mereka tidak dapat melihat betapa LUAR BIASA-nya Tuhan.
Dan, masih ada banyak alasan, kita kehilangan perasaan kagum kepada Allah.
Realita ini, membawa saya pada sebuah pertanyaan: “Apakah, saat ini, Allah masih mengagumkan ?”
Ketika merenungkan hal ini, saya tertarik dengan isi Mazmur 117: “Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” Melalui mazmur ini, kita bisa menarik 2 kesimpulan.
Pertama, melalui mazmur ini, sang pemazmur sedang menyatakan kekagumannya kepada Allah, dan mengajak semua bangsa untuk memegahkan Allah. Mengapa ? Karena pemazmur mengalami kasih dan kesetiaan Tuhan dalam kehidupannya. Dan, pemazmur yakin kasih dan kesetiaan Tuhan tidak akan berubah sampai selama-lamanya.
Kedua, pemazmur menyatakan hal itu, bukan karena hidupnya bebas dari masalah, ataua karena Tuhan mengabulkan semua doanya. Tetapi, karena ia mengimani dan mengalami kesetiaan Tuhan dalam situasi apapun. Dan, kesetiaan itu tidak akan berubah sampai kapan pun. Itulah yang membuat sang pemazmur merasa kagum kepada Allah.
Saya percaya kita setuju dengan pernyataan sang pemazmur, bahwa Tuhan tidak pernah berubah, dan kesetiaan-Nya tidak berkurang sedikitpun. Dan, satu hal yang LUAR BIASA, adalah kasih dan kesetiaan-Nya ditujukan kepada kita, mahluk ciptaan BIASA, yang telah mengecewakan Tuhan dengan ketidaktaatan kita. Namun, meski demikian, Tuhan tetap mengasihi kita.
Ironisnya, kebenaran ini sudah menjadi sesuatu yang BIASA bagi kita. Apalagi, bagi kita, yang sudah mengikut Tuhan bertahun-tahun lamanya. Akibatnya, kekaguman kita kepada Tuhan, sedikit demi sedikit, hilang. Dan, kita menaati kehendak-Nya karena terpaksa, bukan karena kekaguman kita kepada-Nya.
Karena itu, saat ini, saya ingin mengajak kita mengingat 2 hal, yakni: (1) Tuhan adalah pribadi yang LUAR BIASA, dan kasih-Nya yang LUAR BIASA ditujukan kepada kita; dan (2) kita (hanya) pribadi yang BIASA, tapi menerima kasih Tuhan yang LUAR BIASA.
Karena itu, mengucapsyukurlah kepada Tuhan. Lukiskan kekaguman kita kepada Tuhan melalui pujian dan kehidupan kita. Karena, sampai kapanpun, Allah senantiasa MENGAGUMKAN…!!!
Kata “kagum” sering digunakan sebagai ekspresi saat kita menikmati sesuatu, dengan panca indera kita, yang (menurut kita) luar biasa. Misal: kita kagum saat melihat sebuah lukisan, atau mendengar alunan musi, atau mendengar seseorang yang luar biasa.
Pertanyaannya, “Apakah kita mengagumi Allah ?” Seharusnya, di dalam hati kita, muncul perasaan kagum kepada Allah, melebihi perasaan kagum kepada hal-hal yang lain. Sebab kita telah mengalami, mendengar, dan melihat betapa luar biasanya Allah. Namun ada banyak orang yang telah kehilangan kekaguman mereka kepada Allah. Alasannya antara lain …
Pertama, karena mereka menganggap ke-LUAR BIASA-an Allah sebagai sesuatu yang BIASA, yang tidak istimewa. Misal: saat mereka memandang sebuah pemandangan yang sangat indah, hati mereka tidak tergugah karena sudah berulangkali melihat pemandangan yang serupa; atau saat melihat matahari terbit, hati mereka tidak tergugah, karena mereka sudah ter-BIASA melihat hal itu setiap hari.
Kedua, karena mereka sedang menghadapi pergumulan yang sangat berat, sehingga pandangan mereka teralih dari Allah. Akibatnya, mereka terpuruk dalam keputusasaan, dan melupakan bahwa Allah yang LUAR BIASA (selalu) bersedia untuk menolong mereka.
Ketiga, karena mereka menjadikan jawaban doa sebagai ukuran ke-LUAR BIASA-an Allah. Mereka akan mengagumi Allah, apabila Allah menjawab doa mereka. Sebaliknya, ketika jawaban Allah tidak memenuhi harapan mereka, Allah menjadi BIASA di mata mereka. Padahal, apapun jawaban Allah, di baliknya tersimpan sebuah rencana ilahi yang LUAR BIASA, yang melebihi bayangan kita.
Keempat, karena mereka tidak meluangkan waktu untuk melihat karya Allah. Mata mereka telah dibutakan oleh berbagai kesibukan, sehingga mereka tidak dapat melihat betapa LUAR BIASA-nya Tuhan.
Dan, masih ada banyak alasan, kita kehilangan perasaan kagum kepada Allah.
Realita ini, membawa saya pada sebuah pertanyaan: “Apakah, saat ini, Allah masih mengagumkan ?”
Ketika merenungkan hal ini, saya tertarik dengan isi Mazmur 117: “Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” Melalui mazmur ini, kita bisa menarik 2 kesimpulan.
Pertama, melalui mazmur ini, sang pemazmur sedang menyatakan kekagumannya kepada Allah, dan mengajak semua bangsa untuk memegahkan Allah. Mengapa ? Karena pemazmur mengalami kasih dan kesetiaan Tuhan dalam kehidupannya. Dan, pemazmur yakin kasih dan kesetiaan Tuhan tidak akan berubah sampai selama-lamanya.
Kedua, pemazmur menyatakan hal itu, bukan karena hidupnya bebas dari masalah, ataua karena Tuhan mengabulkan semua doanya. Tetapi, karena ia mengimani dan mengalami kesetiaan Tuhan dalam situasi apapun. Dan, kesetiaan itu tidak akan berubah sampai kapan pun. Itulah yang membuat sang pemazmur merasa kagum kepada Allah.
Saya percaya kita setuju dengan pernyataan sang pemazmur, bahwa Tuhan tidak pernah berubah, dan kesetiaan-Nya tidak berkurang sedikitpun. Dan, satu hal yang LUAR BIASA, adalah kasih dan kesetiaan-Nya ditujukan kepada kita, mahluk ciptaan BIASA, yang telah mengecewakan Tuhan dengan ketidaktaatan kita. Namun, meski demikian, Tuhan tetap mengasihi kita.
Ironisnya, kebenaran ini sudah menjadi sesuatu yang BIASA bagi kita. Apalagi, bagi kita, yang sudah mengikut Tuhan bertahun-tahun lamanya. Akibatnya, kekaguman kita kepada Tuhan, sedikit demi sedikit, hilang. Dan, kita menaati kehendak-Nya karena terpaksa, bukan karena kekaguman kita kepada-Nya.
Karena itu, saat ini, saya ingin mengajak kita mengingat 2 hal, yakni: (1) Tuhan adalah pribadi yang LUAR BIASA, dan kasih-Nya yang LUAR BIASA ditujukan kepada kita; dan (2) kita (hanya) pribadi yang BIASA, tapi menerima kasih Tuhan yang LUAR BIASA.
Karena itu, mengucapsyukurlah kepada Tuhan. Lukiskan kekaguman kita kepada Tuhan melalui pujian dan kehidupan kita. Karena, sampai kapanpun, Allah senantiasa MENGAGUMKAN…!!!
Rabu, 13 Januari 2010
Kutipan
"I am not a perfect mother and i will never be.. You are not a perfect daughter and you will never be.. But, put us together and we will be the best mother and daughter we would ever be - Zoraida Pesante"
Selasa, 05 Januari 2010
Kutipan
"Manusia hidup dengan tindakan, bukan dengan gagasan." Anatole France (1844-1924), penulis Prancis
Rabu, 11 November 2009
Kutipan
"Kebenaran bukan untuk semua orang, tapi hanya untuk mereka yang mencarinya." Ayn Rand (1905-1982), penulis kelahiran Rusia
Kamis, 29 Oktober 2009
Rahasia Kebahagiaan
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu" (1 Tesalonika 5:18). Kebahagiaan baru akan kita rasakan, kalau kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki, bukan meratapi apa yang tidak kita miliki
Kutipan
Kamis, 08 Oktober 2009
Kutipan
"Tidak ada kebahagiaan dalam memiliki atau mendapatkan, kebahagiaan hanya ada dalam memberi." Henry Drummond (1851-1860), pujangga Kanada
Minggu, 04 Oktober 2009
Kutipan
"Bekerja keraslah, nanti Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan. Meski Tuhan memberi bakat, Anda harus tetap bekerja. Jangan pernah berpikir semua akan mudah hanya dengan bakat." Aaliyah (1979-2001), aktris dan penyanyi Amerika Serikat
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)